Sabtu, 09 Mei 2015
...
I have no idea. I felt something had been planned long ago. I do not know this is true or false. but to my mind leads to a lie that has been planned.for a misunderstanding Is not this excessive punishment ?! he used to do to me, if he did not realize that I had long ago felt this torture? selfish?!
Minggu, 15 Februari 2015
Seharusnya Percaya
;)
Jujur membuatku serba salahTak jujur membuatku semakin salahLalu harus bagaimana lagiAgar kau terimaSungguh ku tak berdusta
Sungguh mati ku tak menyangkaEmosimu yang tak pernah kau jagaHingga kini tak dapat ku terimaHaruskah ku terlukaAgar kau bahagia
Cinta harusnya kau percayaCinta pastikan setiaJika kau mengerti yang sebenarnya
Sungguh mati ku tak menyangkaEmosimu yang tak pernah kau jagaHingga kini tak dapat ku terimaHaruskah ku terlukaAgar kau bahagia
Cinta harusnya kau percayaCinta pastikan setiaJika kau mengerti yang sebenarnya
Cinta harusnya kau tak marahSemua kan baik sajaMengertilah seharusnya kau percaya
Jangan pernah berfikir ku tak cintaSemestinya kita jujur bicara
Cinta harusnya kau percayaCinta pastikan setiaJika kau mengerti yang sebenarnyaCinta harusnya kau tak marahSemua kan baik sajaMengertilah seharusnya kau percaya
Sabtu, 31 Januari 2015
Hari esok akan mengajarkan pengampunan.
Mungkin karena terlalu sakit hati, seseorang cenderung berharap karma secepatnya menghakimi orang yang telah membuat kita sakit hati. Setimpal, dengan rasa sakit yang kita terima. Bahkan kita berharap karma lebih menyakiti orang tersebut. Agar orang tersebut tau bagaimana menjadi "kita".
Tapi,
tanpa kita mengerti sebelumnya, apakah kita yang memang benar-benar disakiti oleh orang tersebut ataukah memang hati kita yang sakit? sebuah ketidakterimaan terhadap perilaku yang kita harapkan dari orang lain.
lantas, siapa yang sebenarnya menyakiti dan disakiti ? yang merasa tersakiti dan orang lain tidak merasa menyakiti? dan kita merasa sakit oleh harapan kita sendiri ?
:)
Dan, karena terlalu memaksakan rasa sakitnya terhadap orang yang kita anggap telah menyakiti, pada akhirnya kita akan lelah dengan diri kita sendiri, dengan perasaan-perasaan yang timbul dari pikiran-pikiran diri sendiri.
pada akhirnya kita berhenti berharap, :)
bukan karena sebuah keputusasaan, tapi karena lelah mengajari kita untuk tidak menunggu hal-hal yang tidak pasti, lelah juga mengajari kita untuk mampu menyenangkan diri sendiri, menghadiahi diri sendiri dengan rasa ikhlas, dengan keberhasilan-keberhasilan yang dapat kita usahakan dengan tidak lagi mengimajinasikan kejahatan karma yang mampu menghancurkan lawan kita.
kemudian usaha-usaha tersebut akan membuat kita teralihkan perhatiannya terhadap kebencian yang sengaja atau tidak sengaja kita ciptakan untuk lawan kita, sehingga lupa oleh kesuksesan dan kecemerlangan yang telah kita usahakan.
kita menjadi pribadi yang secara sukses mencukupi diri dengan materi dan kelapangan hati, kita disejahterakan oleh kebesaran hati menerima dan mengampuni hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan kita. Olehnya dan Nya kita menjadi bahagia dengan diri kita sendiri.
Dan tanpa pernah lagi mengharapkan keburukan menimpa lawan kita, ia akan celaka dengan perilakunya sendiri. Allah lebih Maha Adil dari sekedar apa yang kita bayangkan. Allah sebaik-baik hakim dan sebaik-baik Maha Pengampun.
:)
Tapi,
tanpa kita mengerti sebelumnya, apakah kita yang memang benar-benar disakiti oleh orang tersebut ataukah memang hati kita yang sakit? sebuah ketidakterimaan terhadap perilaku yang kita harapkan dari orang lain.
lantas, siapa yang sebenarnya menyakiti dan disakiti ? yang merasa tersakiti dan orang lain tidak merasa menyakiti? dan kita merasa sakit oleh harapan kita sendiri ?
:)
Dan, karena terlalu memaksakan rasa sakitnya terhadap orang yang kita anggap telah menyakiti, pada akhirnya kita akan lelah dengan diri kita sendiri, dengan perasaan-perasaan yang timbul dari pikiran-pikiran diri sendiri.
pada akhirnya kita berhenti berharap, :)
bukan karena sebuah keputusasaan, tapi karena lelah mengajari kita untuk tidak menunggu hal-hal yang tidak pasti, lelah juga mengajari kita untuk mampu menyenangkan diri sendiri, menghadiahi diri sendiri dengan rasa ikhlas, dengan keberhasilan-keberhasilan yang dapat kita usahakan dengan tidak lagi mengimajinasikan kejahatan karma yang mampu menghancurkan lawan kita.
kemudian usaha-usaha tersebut akan membuat kita teralihkan perhatiannya terhadap kebencian yang sengaja atau tidak sengaja kita ciptakan untuk lawan kita, sehingga lupa oleh kesuksesan dan kecemerlangan yang telah kita usahakan.
kita menjadi pribadi yang secara sukses mencukupi diri dengan materi dan kelapangan hati, kita disejahterakan oleh kebesaran hati menerima dan mengampuni hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan kita. Olehnya dan Nya kita menjadi bahagia dengan diri kita sendiri.
Dan tanpa pernah lagi mengharapkan keburukan menimpa lawan kita, ia akan celaka dengan perilakunya sendiri. Allah lebih Maha Adil dari sekedar apa yang kita bayangkan. Allah sebaik-baik hakim dan sebaik-baik Maha Pengampun.
:)
Langganan:
Komentar (Atom)